Ngobrolin Mobil Listrik di Indonesia: Cocoknya Untuk Siapa?

jbkderry – Ngobrolin soal mobil listrik dan perkembangannya di Indonesia saat ini tentu menjadi hal yang seksi dan “panas”.

Coba saja masukkan kata kunci “rencana pemerintah mobil listrik” di mbah Google akan ketemu soal rencana pemerintah RI melalui kebijakan Menteri Keuangan untuk memberikan insentif bebas PPnBM 0% untuk mobil listrik yang sepenuhnya mengandalkan tenaga baterei (BEV – Battery Electric Vehicle).

Wacana itu dikemukakan di beberapa media massa pada pertengahan Maret 2021.

Ya, bukan rahasia lagi jika kebijakan pemerintah tentu menjadi salah satu faktor kunci utama keberhasilan atau tidaknya pemasaran mobil listrik di Indonesia. Jika merujuk pada kesuksesan penjualan mobil listrik di Eropa pada tahun 2020 lalu tentu tidak lepas dari insentif atau stimulus yang diberikan oleh pihak pemerintah.

Implikasinya pada tahun 2020 lalu, penjualan mobil listrik di Eropa untuk pertama kalinya dapat melewati angka penjualan mobil listrik di Cina, yaitu 1.365.000 unit berbanding 1.337.000 unit. Salah satunya berkat penerapan kebijakan emisi kendaraan yang mulai diberlakukan pada tahun 2020 lalu di Eropa.

Ya, mobil listrik tentu saat ini menjadi salah satu strategi kunci industri otomotif di dunia untuk menghadapi menipisnya cadangan bahan bakar fosil ke depan. Selain menjadi sumber energi pengganti, sistem elektrifikasi sebagai sumber penggerak kendaraan juga dinilai lebih ramah lingkungan, karena tidak menghasilkan polusi udara pada saat mobil berjalan.

Ya, selain sebagai sumber tenaga pengganti mesin berbahan bakar fosil dan keramahan lingkungan, hal lain yang menjadi nilai plus mobil listrik yang kerap kali digadang-gadang yaitu biaya bahan bakarnya yang lebih murah (jika dibandingkan dengan mobil sekelas berbahan bakar fosil) dan juga biaya perawatannya yang lebih rendah.

Sederhananya, tiga manfaat utama mobil listrik bagi pemilik atau penggunanya adalah biaya bahan bakar lebih terjangkau, biaya perawatan lebih terjangkau, dan juga menjadi salah satu agen utama masalah kelestarian lingkungan hijau.

Nah, kalau soal kelebihannya itu sudah banyak dikupas media-media mainstream. Bagaimana dengan kelemahannya?

Pertama tentu soal soal jarak tempuh yang bisa dijangkau oleh mobil listrik. Ya, sebenarnya untuk persoalan ini sudah ada solusi yang lebih baik yang dikembangkan dan ditawarkan oleh pabrikan.

Tesla misalnya melalui Model S diklaim bisa menjangkau jarak hingga 379 miles atau sekitar 606 km. Bahkan dari sumber yang lain, ada Tesla Model S dengan baterei 100kWh yang dapat menjangkau jarak hingga 659,2 km.

Tapi tunggu dulu, begitu sampai di Indonesia saat ini Tesla Model S dipasarkan Prestige Motors (IU kenamaan) harganya Rp 4,4 miliar. Artinya dengan harga segitu, masih sangat kemahalan untuk konsumen otomotif di Indonesia pada umumnya.

Ada juga mobil listrik dengan harga paling terjangkau di Indonesia saat ini, yaitu Kona Electric dan IONIQ di kisaran harga Rp 600 jutaan, dengan kemampuan daya jelajah hingga 300an km.

Kona Electric yang dibanderol sedikit lebih mahal ditenagai baterei berkapasitas 39,2 kWh. Sementara IONIQ ditenagai baterei lithium-ion pollymer 38,3 kWh.

Dan harga Rp 600an juta tentu masih cukup kemahalan bagi potensial konsumen otomotif di Indonesai pada umumnya. Jadi kelemahan nomor satu saat ini untuk pasar Indonesia yaitu harganya yang masih kemahalan.

Kelemahan kedua saat ini yaitu sama seperti pada kekhawatiran masyarakat global, yaitu kemampuan daya jelajahnya. Apalagi yang harganya lebih terjangkau lagi, pihak pabrikan baru bisa memberikan baterei dengan kemampuan daya jelajah di kisaran 184 km hingga 216 km (simak artikel Ngobrolin Mobil Listrik (Sekali Lagi) Mungkinkah di Indonesia?).

Mobil-mobil listrik di Inggris saat ini dengan harga paling terjangkau di kisaran Rp 300an juta hingga Rp 400an juga (seperti dinarasikan di-link di artikel di atas), daya jelajahnya di kisaran itu 184 km sampai 216 km.

Artinya seperti yang sudah Derry Journey utarakan di vlog di bawah ini, jika dengan kemampuan daya jelajah seperti itu dalam perjalanan Jakarta ke Bandung misalnya mau gak mau harus mampir ke charging station untuk keperluan penambahan daya ke batereinya.

Dan inilah yang menjadi kelemahan ketiga dan keempat, yaitu charging station yang masih terbatas dan yang paling jadi persoalan paling krusial saat ini yaitu durasi pengisian dayanya yang butuh waktu lama.

Rata-rata untuk pengisian daya hingga 80% masih di kisaran 1 jam, walaupun kini sudah ada sudah ada yang tembus di kisaran 26 menit di Fiat 500e dan 35 menit pada Mini Electric. (Coba saja masukkan kata kunci “What are the disadvantages of electric cars?” di Google).

Ya, sisi kelemahan keempat inilah yang menjadi pekerjaan rumah terbesar para pabrikan mobil listrik ke depannya. Dengan durasi pengisian selama itu, mobil listrik dapat dikatakan masih menjadi kendaraan alternatif, karena belum mampu menjawab di sisi kepraktisan.

Sebuah artikel di situs Forbes yang diunggah pada 31 Januari 2021 berjudul “Electric Car Charging As Fast As Gasoline Is The Aim, But Barriers Remain“, menyebutkan beberapa perusahaan otomotif tengah berupaya mencari solusi durasi pengisian daya di kisaran waktu 5 – 10 menit, namun Professor David Greenwood dari Warwick University di Inggris menyebut untuk sampai ke titik itu dibutuhkan waktu sekitar 5 hingga 8 tahun ke depan.

Jika demikian dan dihubungkan kembali dengan judul di artikel otomotif kelas secangkir kopi kali ini, jadi mobil listrik di Indonesia cocoknya untuk siapa saat ini.

Berikut premis a la media kelas secangkir kopi:

  • Kalangan pemerintahan supaya dapat menumbuhkan trust atau rasa kepercayaan publik pada reliabilitas atau keandalan mobil listrik.
  • Kalangan menengah ke atas dengan daya beli mobil di atas Rp 500 juta per unit yang kapasitas daya listrik di rumahnya minimal 5.500 watt, dan digunakan untuk keperluan mobilitas dalam kota, atau luar kota jarak pendek misalnya Jakarta – Bogor dengan jarak tempuh PP di kisaran 100 km atau maksimal 150 km PP.

Kalaupun ke depan, Toyota dan Hyundai sedianya berani memasarkan model mobil listrik dengan harga lebih terjangkau, untuk sementara ini mobil listrik sebaiknya digunakan untuk mobilitas dalam kota, dengan jarak tempuh pergi-pulang maksimal 150 km per hari, amannya 100 km per hari.

Jadi pas pulang atau kembali ke rumah (dengan daya listrik rekomendasi minimal PLN 5.500 watt), bisa kembali di-charge atau diisi dayanya kembali, sebelum kembali digunakan keesokan harinya.

Itu saja dulu, silakan jika Anda ingin menambahkan atau berkomentar. Terima kasih telah mampir, semoga informasi otomotif kelas secangkir kopi ini ada manfaatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s