Ngobrolin Mobil Listrik (Sekali Lagi) Mungkinkah di Indonesia?

jbkderry – Seorang kawan lama bertanya tiga hari lalu (artikel ini dibuat Sabtu 5 Juni 2021). Pertanyaannya begini, ” Chas baterainya, apa sdh cepet kaya orang ngisi bensin di pomp?”

Pertanyaan ini semakin menggelitik di benak pengelola media otomotif kelas secangkir kopi ini.

Mungkin kah?

Pertanyaan diajukan seorang kawan lama itu setelah unggahan di IG Derry Journey di bawah ini:

Jadi bagaimana?

Kalau lihat konten di IG itu di atas, mobil-mobil listrik (pure-BEV) dengan harga paling terjangkau itu dipasarkan di Inggris, yang kalau sampai Indonesia sih sangat memungkinkan harganya membumbung lebih tinggi.

Ya, simak saja harga Kona Electric yang jadi mobil listrik paling terjangkau di Indonesia sudah di atas 600 jutaan.

Dari beberapa kali kulikan informasi di jagat maya, LBP katanya sudah menyiapkan roadmap mobil listrik di Indonesia (coba saja masukkan kata kunci “luhut binsar pandjaitan roadmap mobil listrik” di Google).

Entah bagaimana nanti outputnya di lapangan ke depan, tapi bisa saja nanti dalam waktu yang tidak berapa lama (mungkin mulai di tahun 2023 atau di tahun 2024), akan ada Toyota Avanza atau Toyota Calya, atau bisa jadi ada mobil keluarga dengan teknologi listrik dari Hyundai untuk masyarakat di segmen entry level.

Ya, mungkin saja. Silakan masukkan kata kunci “nilai investasi Toyota di Indonesia” dan “nilai investasi Hyundai di Indonesia”, pasti ketemu mega investasi dari kedua pabrikan terbesar dari Jepang dan Korea Selatan, serta keseriusan dari dua pabrikan otomotif raksasa itu dalam mengembangkan mobil listrik di Indonesia.

Katanya sih di akhir tahun 2021, keduanya akan mulai memperkenalkan model kendaraan listrik di Indonesia.

Nah, pertanyaannya kemudian kembali pada pertanyaan kawan lama di atas, dan relasinya secara lebih luas…

Jika melihat data mobil listrik dengan harga paling terjangkau di Inggris (seperti di konten di IG di atas), masa atau waktu pengisian daya tercepat saat ini masih 26 menit (Fiat 500e).

Nah, ini yang masih jadi persoalan krusial ke depan, karena mobil listrik dengan harga paling terjangkau (di Inggris sekalipun) masa pengisian cepat 80% butuh waktu 26 menit.

Alhasil, setidaknya ada dua persoalan ke depan jika kita membayangkan untuk konteks Indonesia. Pertama, butuh berapa banyak investasi dan biaya pembangunan infrastruktur pengisian daya mobil listrik di Indonesia, termasuk untuk perjalanan luar kota. Katakanlah di rest area dari Jakarta ke Bandung.

Kedua, andai kata mobil-mobil listrik dengan harga lebih terjangkau sudah mulai dipasarkan di dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Katakanlah ada Avanza atau Calya bertenaga listrik sepenuhnya, dengan harga lebih tinggi sekitar 30 – 40 jutaan dibanding versi reguler (mesin berbahan bakar fosil).

Potensi larisnya pasti ada, tapi potensi problemanya pasti juga sudah diperhitungkan pihak pabrikan. Ya, biasanya membeli mobil listrik sudah dapat bonus alat pengisian daya untuk dipasang di rumah.

Pertanyaan retorik (alias gak perlu dijawab) pertama adalah, sudah bukan rahasia lagi jika alat pengisian daya itu butuh kapasitas tegangan listrik yang lebih tinggi dibanding rumah kebanyakan di Indonesia yang rata-rata di kapasitas 1.300 watt.

Sementara teknologi Hyundai saat ini (silakan masukkan kata kunci “kapasitas minimal listrik di rumah buat mobil listrik” di Google) setidaknya membutuhkan daya sekitar 1.760 watt.

Wah, minimal 2.200 watt doang kapasitas daya di rumah? Hmm, yah gak mungkin begitu juga. Masa mesti matikan seluruh perangkat dan perkakas di rumah selama pengisian daya di mobil selama 7 – 8 jam?

Bagaimana kalau daya di rumah 3.300 watt? Nah, ini masih masuk akal, tapi butuh waktu 3 – 4 jam untuk pengisian daya listrik ke mobil. Bahkan rekomendasi pihak PLN, sebaiknya kapasitas daya di rumah dinaikkan jadi 5.500 watt kalau kepengin punya mobil listrik. Viola

Nah, persoalan berikutnya yaitu untuk mobil listrik dengan harga terjangkau, tentu pihak pabrikan akan membatasi pula kapasitas batereinya, dan itu tentu berimbas pada kemampuan daya jelajahnya.

Simak saja kembali konten di IG @derry.journey di atas itu. Mobil-mobil listrik dengan harga paling terjangkau di Inggris (kisaran Rp 300 jutaan hinga Rp 400 jutaan kalau di rupiahkan, mahal juga yah), daya jelajahnya di kisaran 184 km – 210 km.

Nah, kalau ke Bandung dari Jabodetabek berarti harus isi daya di jalan dong? Jawabannya hampir pasti, “Yoi.”

Nah, kalau pengisian daya paling cepat 26 menit saat ini, bisa kebayang gak kalau ada 5 saja mobil listrik yang antri.

Sederhananya, naik mobil listrik jadinya gak bisa buru-buru. Lebih hemat pengeluaran dan ramah lingkungan sih di atas kertas pasti, tapi begitu terkait pengisian daya mobil bakal jadi peer.

Bayangkan, sambil nunggu mobil isi daya, mau gak mau harus nunggu, dan saat nunggu kemungkinan besar harus jajan lagi.

Ya, mobilnya sih lebih irit pengeluaran, namun biaya jajan waktu nunggu pengisian daya bisa jadi lebih bengkak dong…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: